Ramayda Akmal - Nama Orang;
Aliansi Monyet Putih
Gramedia Pustaka Utama · 2022
Informasi Detail Buku
ISBN/ISSN
9786020660639
Penerbit
Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit
2022
Halaman
132 hlm.; 13 x 20 cm
Bahasa
Indonesia
Klasifikasi
899.22
Edisi
Cetakan ke-1
No. Panggil
899.22 RAM a
Subjek
Sinopsis
“Aku adalah orang asing yang belajar di sini. Meskipun aku bicara bahasa selancar mereka, bekerja dengan mereka, bercanda dan tertawa akan hal-hal yang juga lucu bagi mereka, aku tetap orang asing. Mereka yakin, orang asing selalu kesulitan menyesuaikan diri. Selalu berbicara dengan logat yang berwarna. Selalu dimaklumi jika salah, atau bahkan selalu dianggap salah. Selalu mendapat nilai tambahan sebagai pemakluman karena nilai kami tidak bisa disamakan dengan nilai orang sini.”
Deskripsi Produk
Aliansi Monyet Putih adalah kumpulan cerpen Ramayda Akmal yang memotret keterasingan para pendatang di Jerman. Mengetengahkan pertanyaan apakah nilai kemanusiaan universal, atau tetap terbatasi oleh wilayah, suku, warna kulit, dan identitas-identitas lainnya.
Kisah-kisah dalam buku ini adalah potret para pendatang di Jerman. Mereka menghadapi kehidupan serbasulit dan tidak memiliki kesempatan berkompetisi secara adil. Di sisi lain, banyak juga yang kerap mendapatkan pemakluman sebab dianggap lemah dan warga kelas dua yang tidak menjadi masalah bila sesekali salah. Ketika dunia sudah tanpa pagar, mengapa kemanusiaan masih harus dipagari warna kulit, etnis, dan asal negara.
Dalam novel ini Ayda menulis tentang tokoh utama berdarah Indonesia yang memiliki problem tinggal di Jerman. Topiknya terasa relevan dengan keadaan. Termasuk kondisi pandemi ini. Imigran, pelajar, pekerja dari negara di luar Jerman harus berusaha keras agar izin tinggalnya bisa diperpanjang. Atau agar beasiswanya tetap mengucur. Rupa-rupa usaha itu ditangkap oleh Ayda menjadi cerita yang tak membosankan.
Deskripsi Produk
Aliansi Monyet Putih adalah kumpulan cerpen Ramayda Akmal yang memotret keterasingan para pendatang di Jerman. Mengetengahkan pertanyaan apakah nilai kemanusiaan universal, atau tetap terbatasi oleh wilayah, suku, warna kulit, dan identitas-identitas lainnya.
Kisah-kisah dalam buku ini adalah potret para pendatang di Jerman. Mereka menghadapi kehidupan serbasulit dan tidak memiliki kesempatan berkompetisi secara adil. Di sisi lain, banyak juga yang kerap mendapatkan pemakluman sebab dianggap lemah dan warga kelas dua yang tidak menjadi masalah bila sesekali salah. Ketika dunia sudah tanpa pagar, mengapa kemanusiaan masih harus dipagari warna kulit, etnis, dan asal negara.
Dalam novel ini Ayda menulis tentang tokoh utama berdarah Indonesia yang memiliki problem tinggal di Jerman. Topiknya terasa relevan dengan keadaan. Termasuk kondisi pandemi ini. Imigran, pelajar, pekerja dari negara di luar Jerman harus berusaha keras agar izin tinggalnya bisa diperpanjang. Atau agar beasiswanya tetap mengucur. Rupa-rupa usaha itu ditangkap oleh Ayda menjadi cerita yang tak membosankan.
Ketersediaan
#
My Library
899.22 RAM a
text2400049
Tersedia
Rekomendasi Buku Lainnya
0 BukuTidak ada rekomendasi buku yang ditemukan.